MESKIPUN baru saja bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mengusungnya sebagai Calon Gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013, Mayor Jenderal TNI (Purn) Tritamtomo (57) merasa prinsip partai politik itu sama dengan prinsipnya sebagai seorang purnawirawan. Yakni menjadi nasionalis dan
pluralis sejati.
Ditemui dalam wawancara singkat di Lantai 8 Hotel Emerald Garden, Jalan Putri Hijau Medan, Sabtu (29/3) lalu bersama Metro TV, ia tampak tegang. Namun, ia kemudian menyapa ramah dengan senyumnya yang khas. Panda Nababan, tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) senior itu, sempat berseru, ”Rileks saja Bung.”
”Bagaimanapun rumah besar ini harus dihuni oleh anak bangsa yang mempunyai banyak persamaan, serta meninggalkan perbedaan suku, agama, ras, dan golongan,” kata bapak lima anak yang dipanggil banyak kalangan dengan sebutan Babe itu. Rumah besar yang dimaksud adalah Sumatera Utara (Sumut), representasi keindonesiaan yang multikultur.
Setelah selesai dari jabatannya sebagai Panglima Komando Daerah Militer I Bukit Barisan tahun 2005 dan menjadi pengajar ahli politik dan kewarganegaraan Lemhanas, Tritamtomo muncul kembali di Sumut. Kali ini untuk maju menjadi calon gubernur.
Memahami Sumut
”Saya sudah bertugas di Sumut selama tiga tahun, dua bulan, 11 hari, saya cukup paham Sumatera Utara,” tuturnya.Tugas itu ia rasa memberi pemahaman cukup pada dirinya untuk mengenal sudut-sudut dan pelosok provinsi ini. Ditambah tugas dalam operasi militer Dharma Nusa di Nanggroe Aceh Darussalam (2003-2005), serta berbagai pengalaman penugasan di dalam dan luar negeri membuat Tri yakin dirinya mampu memimpin Sumut.
Tritamtomo melihat banyak kesenjangan di Sumut, sementara dirinya punya potensi untuk bisa mengabdikan diri. PDI-P menerimanya, dan memasangkannya dengan calon wakil gubernur Benny Pasaribu untuk memimpin Sumut periode 2008-2013.
Tritamtomo lahir 15 Februari 1951 di Bogor, Jawa Barat, dari keluarga almarhum Haji R Danuri, seorang pensiunan tentara yang bertugas di Jawa Tengah. Ia anak ke-3 dari 10 bersaudara. Salah satu saudara kandungnya adalah mantan Kepala Polda Sumut Bambang Hendarso Danuri, yang merupakan anak ke-4.
Setelah lulus SMA Negeri 2 Jakarta, pada tahun 1969 ia masuk Akabri dan lulus tahun 1974. Tritamtomo lalu meneruskan studi di bidang hukum dan memperoleh gelar sarjana hukum dari Perguruan Tinggi Hukum Militer di Jakarta. Kegemaran suami Lia Setyaningsih itu adalah olahraga dan membaca buku.
”Kalau orang bertanya, Bapak mantan militer, apakah akan melakukan pendekatan militeristik dalam membangun persatuan dan kesatuan, saya jawab tidak dengan cara seperti itu,” katanya. Tri menyatakan akan melakukan pendekatan preventif kemudian represif total.
”Tentunya tahapan ini harus dilakukan melalui sentuhan penataan kerja, meningkatkan kebersamaan melalui kemitraan, kemudian meningkatkan program kerja yang terintegratif antara kota, kabupaten, dan provinsi,” ujarnya.
Langkah yang akan dilakukan dalam pendekatan keamanan adalah memperdayakan inspektorat dan pengawasan. ”Saya melalui pendekatan pembinaan teritorial dengan teman lain untuk menciptakan kesinergian antaranak bangsa di wilayah ini sehingga kesatuan, kebersamaan, ditepati dan terbentuk,” ujarnya.
Benahi infrastruktur
Hal pertama yang akan dilakukan jika dirinya menjadi gubernur adalah membenahi infrastruktur, terutama jalan. Kesenjangan antara pantai barat dan pantai timur ia rasa sangat tinggi. Ia ingin menciptakan keseimbangan di dua daerah itu.
Ia akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk membenahi infrastruktur. ”Pemerintah daerah tidak bisa berdiri sendiri. Kami akan berinteraksi dengan dukungan pemerintah pusat, lalu diaplikasikan di lokal. Juga bekerja sama dengan Sumatera Barat dan Riau,” kata Tritamtomo. (Aufrida Wismi/Josie Susilo Hardianto)
Sumber: Halaman Pilkada Sumut Kompas Sumbagut (2/4) Halaman 2
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang